Berkunjung ke Mamayev Kurgan – adalah salah satu kesempatan yang saya dapatkan ketika mendapatkan beasiswa pendidikan S2 di Rusia. Belajar di Rusia yang seluruh pendidikannya menggunakan bahasa pengantar Rusia, mengharuskan saya untuk mengikuti kelas program bahasa Rusia selama setahun, maka ditunjuklah kota Volgograd (dahulunya Stalingrad) sebagai awal pendidikan saya di Negara Beruang Merah ini.
Volgograd (Stalingrad) – kota industri yang terletak di Selatan Rusia ini termasuk salah satu kota yang terbentang di sepanjang Sungai Volga yang terkenal sebagai sungai terpanjang di seluruh penjuru Eropa. Kota Volgograd terkenal dengan sejarah Perang Stalingrad-nya pada perang dunia II – merupakan pertempuran berdarah sepanjang sejarah, antara tentara Jerman dan sekutunya melawan Uni Soviet. Pertempuran memperebutkan kota Stalingrad yang membunuh 1,5 juta jiwa lebih dari kedua pihak ini merupakan titik akhir dari Perang Dunia ke II dimana pasukan Hitler berhasil dikalahkan dan kemudian bergantian Jerman diserang balik oleh pasukan Uni Soviet.


Volgograd (Stalingrad) – kota industri yang terletak di Selatan Rusia ini termasuk salah satu kota yang terbentang di sepanjang Sungai Volga yang terkenal sebagai sungai terpanjang di seluruh penjuru Eropa. Kota Volgograd terkenal dengan sejarah Perang Stalingrad-nya pada perang dunia II – merupakan pertempuran berdarah sepanjang sejarah, antara tentara Jerman dan sekutunya melawan Uni Soviet. Pertempuran memperebutkan kota Stalingrad yang membunuh 1,5 juta jiwa lebih dari kedua pihak ini merupakan titik akhir dari Perang Dunia ke II dimana pasukan Hitler berhasil dikalahkan dan kemudian bergantian Jerman diserang balik oleh pasukan Uni Soviet.
Perang Berdarah Hitler dan Uni Soviet – bermula ketika Hitler keras kepala mengincar kota Stalingrad karena kota ini sangat strategis sebagai jalur transportasi, kota industri besar, dan memiliki cadangan minyak yang sangat berguna bagi pasukan Jerman. Sehingga Hitler sangat berambisi untuk menguasai kota ini, bagaimanapun kondisinya. Seluruh pasukannya dikerahkan dan tanpa segan-segan membantai semua lawannya termasuk warga sipil di Stalingrad. Di lain pihak, pasukan dan rakyat Stalingrad tidak mau menyerah begitu saja. Jiwa patriotik mereka berhasil menghadang pasukan Jerman dan mati-matian membela kota mereka. Pertempuran sengitpun tidak terelakkan, tercatat setiap harinya sekitar 40.000 pasukan dari kedua belah pihak mati terbunuh.
Musim Dingin Rusia Pembawa Kemenangan – selama pertempuran dengan rakyat dan pasukan Stalingrad, pasukan Jerman tidak menyadari Uni Soviet telah membuat strategi perang musim dingin. Ketika musim dingin tiba, Hitler tetap bersikeras agar pasukannya tetap bertahan di Stalingrad dan meminta bala bantuan untuk mengirimkan perbekalan bagi mereka. Sayangnya, keganasan musim dingin Rusia telah menghalangi bala bantuan untuk mengirimkan perbekalan tersebut. Ratusan ribu pasukan Jerman kelaparan, kedinginan dan terserang berbagai penyakit. Utusan bala bantuan pasukan yang hendak membantu pun terhalang oleh cuaca yang sangat ekstrim dan dihadang oleh tentara Uni Soviet lainnya yang sudah terbiasa dengan dinginnya Rusia. Hingga akhirnya, pasukan Jerman di Stalingrad pun terkepung dan menyerah. Peristiwa bersejarah ini menyebabkan kota Volgograd rusak sangat parah dan luar biasa kehilangan banyak jiwa. Hingga kini, peristiwa ini masih dianggap sebagai pertempuran paling berdarah dan terbesar dalam sejarah manusia. Untuk mengenang peristiwa bersejarah ini dibangunlah monumen raksasa bernama Mamayev Kurgan.
Mamayev Kurgan - monumen peringatan terjadinya perang Stalingrad. Berbentuk seorang perempuan (ibu) yang memegang pedang, dikenal juga sebagai pelindung kota Volgograd. Tinggi monumen ini sekitar 102 meter. Menurut warga Volgograd, arti dari monumen ini adalah bagaikan seorang ibu yang merawat anaknya (bentuk perempuan) dan juga berani membela, melindungi anaknya dari berbagai bahaya (bentuk pedang).
Di areal/bukit Mamayev Kurgan ini banyak terdapat monumen-monumen yang menggambarkan kondisi perang bersejarah tersebut. Patung serdadu sedang berperang, dihiasi juga dengan slogan-slogan pengobar semangat, museum yang berisi obor api abadi yang dikelilingi dengan daftar nama para pejuang yang gugur, lapangan luas yang penuh dengan makam para pejuang, dan beberapa gereja Orthodoks. (Sayangnya saya berkunjung ke bukit ini ketika musim dingin baru saja berakhir, sehingga beberapa air mancur belum diaktifkan kembali).
Saya menyempatkan diri untuk memandang keseluruhan kota Volgograd dari atas bukit Mamayev Kurgan ini, membayangkan saya berada di tempat ini ketika terjadi Perang Dunia ke II. Betapa hancurnya seluruh kota Volgograd, tidak menyisakan satu bangunan pun. Kini, kita hanya bisa mengenangnya dengan adanya museum, monumen, Pavlov's house, dan pabrik tepung yang hancur.
Secara keseluruhan kota Volgograd sudah berubah, terutama sejak era Stalin. Perkembangan ekonomi dan industri yang maju pesat, membuat kota ini menjadi kota yang begitu modern.
Note:
Pavlov's House : salah satu sisa tembok rumah Pavlov yang dijadikan simbol bertahannya tentara Uni Soviet terhadap gempuran tentara Jerman yang sangat brutal.
Pavlov's House : salah satu sisa tembok rumah Pavlov yang dijadikan simbol bertahannya tentara Uni Soviet terhadap gempuran tentara Jerman yang sangat brutal.
Museum Stalingrad : berisi foto-foto tentara Uni Soviet, tank, senjata, pakaian tentara, peralatan kehidupan sehari-hari ketika perang dan di lantai paling atas (loteng) terdapat miniatur lengkap suasana perang Stalingrad.
Tragedi Stalingrad ini juga dapat ditonton dalam Film Enemy at The Gates, yang disutradarai oleh Jean-Jacques Annaud.

