our little countdown

Daisypath Wedding tickers

our baby's counting down

Lilypie Pregnancy tickers

Saturday, January 29, 2011

Bologna





__ SINJOE's STORIES (hamil 9 minggu) __
Setiap kali kami melakukan perjalanan, kami selalu menyempatkan diri membeli kartu pos setempat, menulis cerita singkat perjalanan kami, dan tidak lupa mencap-nya dengan cap kereta api di stasiun :)
Inilah hasil penulisan ulang kartu pos tersebut (dengan sedikit revisi)












Spontaneous Trip

Pulang dari mengurus kartu kesehatan (tessera sanitaria untuk kehamilan) kami ujug-ujug berangkat ke stasiun dan mencari kereta apapun yang akan segera berangkat. Kota Bologna menjadi pilihan. Kami makan chicken wings (makanan yang aku idam-idamkan selama ini), cheese burger, kentang goreng dan es krim. Jalan-jalan di Centro, ada patung Zeus, gereja-gereja.....bagus sekali :) Kami mengunjungi beberapa gereja dan museum seni.





















Pulang ke Verona pukul 6.10 PM.


Sunday, January 9, 2011

I'm Pregnant....ooo ooow...

Pernikahan kami kini menginjak usia ke 5 bulan, setelah merasakan manisnya hidup bersama di Indonesia selama 2 bulan, kemudian terpisahkan sementara selama 2 bulan karena Joe harus berangkat ke Italia lebih dahulu sedangkan aku ingin berkangen-kangen dulu dengan keluargaku, dan sekarang 1 bulan latihan hidup “hanya berdua” tanpa sanak saudara di sekitar kami.

Teringat nasehat dari Ibu mertuaku, sangat sederhana namun cukup mendalam artinya, yaitu agar kami selalu akur. Karena menurut beliau, jauhnya kami dari sanak saudara, akan menimbulkan banyak permasalahannya sendiri.


Sedikit cerita ke belakang...

Sebelum kami menikah, kami pernah membahas komitmen kami tentang kehamilan dan pemeliharaan anak-anak kami kelak. Kami sudah menyatukan pendapat, bahwa menikah bukanlah semata-mata hanya untuk melahirkan seorang anak. Menikah adalah belajar untuk saling berkomitmen, belajar hidup bersama, saling mengerti akan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terutama adalah untuk saling menyayangi. Entah dalam perjalanannya, kemudian dalam suatu pernikahan dikaruniai seorang anak. Itu adalah suatu proses dan hasil ;) bukanlah suatu tujuan.

Usia perkenalan kami cukup singkat, hanya seminggu berjumpa secara langsung di Moscow dan 9 bulan lainnya kami habiskan kebersamaan kami melalui alat komunikasi jarak jauh, Skype. Hal ini menjadi salah satu alasan kami untuk tidak terburu-buru memiliki momongan, tidak seperti kebanyakan teman-teman kami yang sudah menikah. Kami ingin menghabiskan waktu berdua dulu, saling mengenal, setidaknya mengganti masa-masa “pacaran” yang telah kami lewatkan. Kami berharap kami dikaruniai seorang anak ketika kami sudah merasa siap, siap mental. Apalagi, kondisiku saat itu yang benar-benar kejar tayang...hoho..tesis, sidang, wisuda, packing untuk pulang, dan pernikahan. Alhamdulillah, keluarga di rumah dengan sukses mengatur semua acara pernikahan kami dengan sempurna :)

Bisa dikatakan, kami berdua hanya "terima jadi" :) Aku sampai di Indonesia H-10, sedangkan Joe H-4. Fiiiuuhhh..bahkan ibuku baru berkenalan dengan calon menantunya di H-3 pernikahan kami...

Cukup capek juga, berbagai penyesuaian-penyesuaian harus aku lakukan. Kedatanganku dari Moskow yang sangat-sangat mepet dengan hari pernikahan, penyesuaian dengan keadaan rumah keluarga yang sudah lama aku tingal, penyesuaian dengan suami, keluarga besar suami (roadshow keliling), teman-teman suami dan 4 bulan kemudian aku sudah harus berangkat ke Itali dan lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana baru. Alhamdulillah, perjalanan hidup yang sangat menarik dan menyenangkan…


Ternyata akhirnya... Allah memiliki rencana yang tidak kita ketahui..

Baru sebulan di Italia menikmati masa "pacaran", memulai hari dengan suasana baru, sambil belajar memasak, belajar bahasa Italia, menulis, merajut. Tak terasa jadwal bulananku telat seminggu, entah kenapa hati ini mengatakan bahwa aku hamil. Suamiku juga selalu menggodaku, bahwa aku hamil. Huuufff, godaan yang sangat menyebalkan!! Rasa senang dan juga khawatir bercampur aduk.

Pikiran-pikiran berlebihan mengenai repotnya masa kehamilan, ketakukan-ketakutan berlebihan mengenai proses kelahiran, menyadari kami di Italia hanya berdua, tidak tahu apa-apa mengenai kehamilan, jauh dari sanak keluarga terutama orangtua dan terutama hilangnya masa "pacaran" kami, selalu membuatku sedih dan khawatir.

Tak sabar rasanya ingin segera membeli testpack, agar aku bisa mengetahui keadaanku yang sebenarnya Tapi selalu saja, setiap aku mengajak suamiku untuk membeli testpack, ada saja alasannya untuk tidak segera membelinya. Oh oh oh, selidik punya selidik ternyata suamiku grogi, takut untuk melihat hasilnya. Selama seminggu aku bersabar untuk menahan besarnya keinginan membeli testpack. Sampai akhirnya sesuai waktu yang sudah dijanjikan suamiku, kami membeli testpack di supermarket.

Rencananya esok pagi, kami akan mengecek urine ku. Ternyata, gantian aku yang grogi. Aku menolak untuk mengecek air urine ku pada hari itu. Bahkan pada hari itu, rasa mual-mual yang biasanya aku rasakan mendadak hilang. Kemarin aku senang merasa hamil, dan sekarang aku takut kalau memang benar hamil.... :(( :(( :((

Akhirnya, baru keesokan harinya aku memberanikan diri untuk mengecek urine ku. Aku mengeceknya sendirian, tanpa suamiku, aku grogi euii...


Dan hasilnya, dua strip.


Suamiku menanyakan hasilnya, namun aku diam saja. Setelah dia melihat hasilnya, dia tersenyum lebar sambil berkata, "kiyuth hamil...!!". Entah mengapa, air mataku tiba-tiba mengalir, rasa sedih dan takut lagi-lagi menyerangku. Sedikit sekali rasa bahagia di hati ini.

Sampai selama 3 hari setelahnya, aku terus protes dengan hasil testpack itu, "Imbil, pasti testpack-nya salah, kita beli lagi yuk...", terus saja aku merajuk suamiku agar membelikan testpack lagi. Setiap hari aku menyuruh suamiku untuk melihat lagi hasil testpack-ku, siapa tahu berubah :D :D :D berharap stripnya berkurang satu... :(

Sayangnya suamiku tidak menurutiku...Suamiku terus menghiburku, mengingatkanku - mungkin lebih tepatnya menyadarkanku - bahwa aku memang benar hamil. Sedikit demi sedikit dia merayuku untuk makan lebih banyak, bergizi, mengurangi cemilan-cemilan tidak sehat. Di pagi hari, dia membuatkan nasi telur ceplok - makanan kesukaanku. Dia selalu melayani aku ketika aku merasa mual-mual dan malas untuk makan. Semangat dan dukungannya membuatku sedikit demi sedikit mulai menerima bahwa aku hamil, aku tidak sendiri, ada suamiku yang selalu menjagaku dan aku bahagia :) :) :)

Suatu saat suamiku mengajakku untuk mencari jaket bayi untuk musim dingin, karena sekarang sedang winter sale. Whew, lagi-lagi aku bertanya padanya, "memangnya beneran ya, nanti aku mau lahiran dan punya bayi?".

Haduuuuh...aku masih belum siap dengan kehamilan iniii :( just wait and see.. :(

Thursday, January 6, 2011

Trento

__ SINJOE's STORIES (sudah hamil tapi belum nyadar :D ) __
Setiap kali kami melakukan perjalanan, kami selalu menyempatkan diri membeli kartu pos setempat, menulis cerita singkat perjalanan kami, dan tidak lupa mencap-nya dengan cap kereta api di stasiun :)
Inilah hasil penulisan ulang kartu pos tersebut (dengan sedikit revisi)


Makan Siang di Trento



Kami ke Trento karena diundang syukuran ulang tahun pernikahan
ke-1 (Yudis & Dewi) dan ke-2 (Tizar & Yusi). Makan soto betawi, promosi
kastanye ala Joe dan kue Pandoro. Jalan-jalan ke Centro dan berfoto dengan
bebek raksasa Trento.






Pulang naik kereta api pukul 19.10 PM.